Palembang – Penanganan kasus kecelakaan maut yang melibatkan Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki bahan bakar minyak (BBM) di Jalan Lintas Sumatera, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, terus berjalan intensif. Peristiwa tragis yang terjadi pada Rabu (6/5/2026) itu kini telah memasuki tahap penyidikan.
Penyidik Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Selatan bersama tim Traffic Accident Analysis (TAA) Korlantas Polri resmi meningkatkan status perkara dari penyelidikan ke penyidikan setelah mengantongi sejumlah alat bukti dan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP).
Proses penanganan kasus tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Lalu Lintas Polda Sumsel, Kombes Pol Maesa Soegriwo. Dalam insiden nahas yang menewaskan 19 orang itu, penyidik juga tengah mendalami unsur kelalaian maupun faktor teknis lainnya yang diduga menjadi penyebab kecelakaan.
Sinergi Dua Perwira Polri Bersaudara
Di balik proses penanganan cepat kecelakaan maut tersebut, terdapat kolaborasi dua perwira Polri yang ternyata memiliki hubungan keluarga sebagai kakak dan adik.
Sosok pertama ialah Brigjen Pol Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M., Sp.F., yang menjabat sebagai Kepala Laboratorium Dokkes (Karo Labdokkes) Pusdokkes Polri. Sementara adiknya, Kombes Pol Maesa Soegriwo, bertugas memimpin penanganan teknis dan penyelidikan kecelakaan di lapangan.
Kombes Pol Maesa Soegriwo fokus mengoordinasikan proses investigasi kecelakaan, termasuk pengumpulan barang bukti dan analisis kecelakaan lalu lintas. Di sisi lain, Brigjen Pol Sumy Hastry memimpin proses identifikasi korban melalui pendekatan forensik dan Disaster Victim Identification (DVI).
Kolaborasi keduanya dinilai mempercepat proses penanganan kasus, khususnya dalam identifikasi korban yang sebagian besar mengalami kondisi sulit dikenali akibat benturan keras dan kebakaran pascakecelakaan.
14 Jenazah Berhasil Diidentifikasi
Hingga saat ini, tim DVI Polda Sumsel bersama DVI Pusdokkes Polri telah berhasil mengidentifikasi 14 dari 17 kantong jenazah yang sebelumnya belum diketahui identitasnya.
Seluruh jenazah yang telah teridentifikasi tersebut sudah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Sementara itu, tiga jenazah lainnya masih menjalani proses identifikasi lanjutan melalui metode ilmiah, termasuk pencocokan DNA dengan keluarga inti korban.
“Tiga jenazah masih dalam proses pemeriksaan lanjutan. Karena kondisi fisik yang sulit dikenali, kami menggunakan metode pencocokan DNA. Sampel DNA tulang korban akan dicocokkan dengan keluarga inti,” ujar Brigjen Pol Sumy Hastry.
Pusdokkes Polri berharap proses identifikasi terhadap seluruh korban dapat segera rampung agar para korban dapat dipulangkan dan dimakamkan secara layak oleh keluarga masing-masing.
Penyidikan Terus Berlanjut
Selain fokus pada identifikasi korban, penyidik Ditlantas Polda Sumsel bersama tim TAA Korlantas Polri juga masih mendalami kronologi pasti kecelakaan, termasuk kemungkinan adanya unsur pelanggaran lalu lintas maupun faktor kelayakan kendaraan.
Penetapan tersangka dalam kasus kecelakaan maut Bus ALS di Muratara tersebut disebut tinggal menunggu hasil final gelar perkara dan kelengkapan alat bukti dari tim penyidik
